Katajiwa

Majalah Kebudayaan

“bu, dingin…”
“ya nak, tetaplah di pangkuan ibu. ibu akan selalu memelukmu, menghangatkanmu, dan pastikan kau ‘kan baik-baik saja.”

 

“bu, takut…”
“iya nak, ibu juga takut. tapi kita mesti bertahan sampai sejauh-jauhnya. kita masih belum selesai, maka tetaplah berjalan di sebelah ibu. pegang tangan ibu kuat-kuat agar ketakutan itu bisa kita kalahkan bersama-sama…”

 

“bu, letih…”
“iya sayang, ibu tahu kau begitu lelah. istirahatlah, tidur lah yang tenang. biar ibu disini, nyanyikan kau lagu kehidupan agar kau mimpi indah disana. biar aku jaga kau anakku. tak ada yang akan mengganggumu, ku elus wajah dan keningmu, kuselimuti kau bila kedinginan. sampai pagi, kau harus bangun kembali. gantikan aku yang tak lama lagi disini…”

 

“bu…”
“tak usah bicara lagi anakku. kau hanya perlu tahu, meski kecupan ibu tak bisa lagi kau rasakan, cinta ibu sepanjang waktu. selama bumi ini masih berdiri di orbitnya, yakinlah cinta ibu ‘kan selalu ada. untuk kau anakku…”

 

Oleh ZAKIYUS SHADICKY

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on February 21, 2012 by in Puisi.
%d bloggers like this: