Katajiwa

Majalah Kebudayaan

Hamsun

Kalangan kolong jembatan memanggilnya Sang Punggawa. Bukan karena dia gagah seperti prajurit, bukan. Apalagi sungguhan suruhan raja, bukan. Sungguh bukan. Gara-garanya ketika malam inisiasi kolong jembatan, ia mendeklamasikan Binatang Jalang-nya Chairil Anwar dengan totalitas dan penuh perasaan. Semua penghuni kolong jembatan sontak bersorak, berdiri serentak, standing applause, meski mereka toh nggak tahu apa arti dari frase itu sendiri. Saat itulah, salah seorang dari mereka berteriak menunjuk-nunjukinya “Sang Punggawa! Sang Punggawa!!” 

Maksudnya barangkali Sang Pujangga, tapi julukan itu sudah kadung diterima saja secara aklamasi. Baik oleh yang dijuluk maupun seluruh penghuni kolong jembatan.

Sehari-hari Sang Punggawa beroperasi di bis-bis kota. Trayek favoritnya tentu saja dekat-dekat gedung hijau tempat wakilnya berkantor. Lumayan… kalau lagi ada acara, ia dapat sisa-sisa kotak makanan yang bagi anak semata wayangnya berarti pesta makan besar. Sambil makan pun dapat bonus cerita unik, asik dan menggelitik tentang kelakuan para wakilnya. Langsung dari para OB yang bertugas di sana. “Lumayaaan… bakal modal ngamen di bis entar…” pikirnya.

Oya, penghasilannya sehari lumayan lho! Itu karena puisi-puisi yang ia ngamenkan orisinil dan aptudet. Sepertinya begitu banyak penumpang yang sehati dengannya, sehingga mereka rela merogoh sedikiiiit lebih ke dalam kantong, untuk menunjukkan rasa keterwakilan isi hatinya terhadap puisi tersebut. “Lumayaaaan.. bisa disimpen buat nyekolahin si Upik..” syukurnya.

Omong-omong soal syukur, sudah lama ia tak bersyukur dengan semestinya. Misalnya alih-alih mengucap hamdalah sesuai keyakinannya yang terakhir, ia lebih suka mengucap “lumayaaaaan..”. Bukan apa-apa, ia sudah cukup sering kecewa dengan agama. Lebih tepatnya dengan penyampainya mungkin. Berkata begini, lakunya begitu. Kalau mau baik ya totalitaslah. Kalau nggak ya, jahat total saja sekalian. Bikin bingung saja. “Liat nih gue! Gue miskin-miskin gini totalitas loh! Total miskinnya!!” teriaknya pada langit sore itu. Anaknya di samping sedang duduk memegang koran berisi berita seorang anggota DPR yang juga ulama, ketahuan berbuat ta senonoh di sebuah hotel. “Untunglah.. anakku si Upik belum bisa baca..”

Sang Punggawa menyuruh anaknya berdiri. Mereka harus berjalan lagi karena hari sudah tinggi. Tiba-tiba Upik sang anak mengeluh “Hamsun.. aku lapar..”, memegangi perutnya yang berkeriuk-keriku sambil cengengesan.

“Hus!! Kapan kau akan mulai panggil aku Mak?” jawab Sang Punggawa sambil tersenyum-senyum.

Oleh HUMEIRA FAUZIA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on February 21, 2012 by in Cerita Pendek and tagged , .
%d bloggers like this: