Katajiwa

Majalah Kebudayaan

Pagi Abadi

Aku terbangun lagi pagi ini

Mendapati keheningan yang pedih

Senja menyisip dalam birai mentari

Debar dan sesak yang sama tak jua berakhir

 

Tanganku meraba dan mencari

Sebilah belati di balik bantal yang kutiduri

Dan menikam jantungku

Berharap mati melampus sepi

 

Lalu..

 

Aku terbangun sekali lagi.. pagi lagi..

Mendapati kesepian yang pedih

Kesal menyisip dalam birai kefakiran diri

Sakit dan frustasi yang sama tak jua berganti

 

Tanganku meraba dan mencari

Sepucuk senjata api dalam lemari

Mengecupkannya pada pelipis kiri.. duaaar!

Berharap mati melampus pagi yang sendiri 

 

Keesokan pagi..

 

Ku dengar jantungku berdetak lagi..

Ah.. mengapa harus pagi lagi..

Masih saja sunyi.. masih saja sepi..

Masih saja sendiri..

 

Ruang pagi, 9911

 

Oleh KAWAKO TAMI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on February 21, 2012 by in Puisi.
%d bloggers like this: