Katajiwa

Majalah Kebudayaan

Pernikahan

24 Agustus 2011, pukul 20.00

“Doakan ya.” Senyumnya sambil mengacak rambutku, lalu beranjak pergi.

Dan air mataku pun menetes. Sungguh, tak dapat kudefinisikan perasaanku. Sedih, bahagia, takut, entahlah. Yang aku tahu, saat yang seharusnya datang itu, telah dihadapanku kini. Dan meski aku menyadarinya sejak lama, sesak itu tetap ada.

***

Pernikahan, seharusnya merupakan momen membahagiakan, seperti halnya kelahiran dan kelulusan…

***

Berbulan-bulan yang lalu…

“Dek, makan yuk. Aku traktir deh.”

Nggak bisa, Kak.”

“Eh, kenapa?”

Nggak bisa nolak maksudnya. Hehe.”

“Haha. Dasar!” ditoyornya kepalaku. Ia berdiri, lalu digandengnya tanganku.

Ah, tawa tangisku mungkin sudah dihafal betul oleh sosok ini.

***

Dulu kupikir begitu…

***

Guys, ada kabar baik lho!” Riang sobatku menghampiri.

“Apa?”

“Kakak kita yang satu itu mau menikah!”

“Oh ya?”

“Iya.”

“Kapan?”

“Bulan depan.”

“Alhamdulillah…” Senyumku.

“Iya, uuuh, seneng ya? Jadi ngiri deh. Kapan ya giliran aku? Terus kira-kira sama siapa ya aku menikah? Hm, mungkin nggak kalo sama…”

Masih panjang monolog sahabatku. Hm, maksudku, mungkin dia tidak berniat bermonolog, tapi diamku membuatnya terlihat seperti itu.

Sambil ia terus bicara, pikiranku justru melayang membayangkan wajah itu, kakak tersayang yang juga selalu menyayangiku. Aku lantas sibuk memikirkan hadiah apa yang harus kusiapkan. Ini momen spesialnya, aku juga harus memberinya sesuatu yang spesial.

***

Sekarang, rasanya tidak lagi seideal itu. Dalam banyak kesempatan di kehidupanku, pernikahan seringkali terasa menyesakkan dada.

***

Beberapa waktu kemudian…

“Kak, lagi sibuk nggak?”

Aku mau cerita, batinku.

“Hm, lumayan sih. Aku diajak suamiku pergi, Dek. Kenapa?”

Nggak apa-apa. Makasih ya, Kak.”

Kututup saluran telepon. Gagal yang ketiga.

Ah, mungkin lain kali saja. Atau mungkin, cari orang lain saja.

***

Pernikahan yang seharusnya berarti mendapatkan karena hadirnya orang baru, seringkali bagiku justru berarti kehilangan.

***

“Fiiin…” Lagi, sobatku itu selalu heboh.

“Hm…”

“Lihat nih aku bawa apa.”

Kulirik sekilas. Kertas merah muda yang tampak mengkilat. Undangan, lagi. Aku terhenyak.

Tuhan, siapa lagi yang akan terampas kini?

“Coba tebak siapa? Kamu pasti kaget deh.”

Kucoba menulikan telinga, tapi nama itu tersebut juga, dan getarannya tertangkap juga oleh gendang telingaku. Ingin rasanya aku menangis.

“Acaranya bulan depan, Fin. Siapin kostum, yuk! Enaknya yang kayak gimana yaaa?”

“Hm.”

Hanya itu responku. Kehilangan semangat.

***

Sungguh, bukan aku tidak paham, bahwa setelah menikah, prioritas orang tentu berbeda. Bukan pula aku bermaksud menyalahkan para pasangan mereka karena telah merampas perhatian mereka dariku. Tapi…

***

“Cinta itu punya warna, Sayang.”

Sebuah suara suatu malam. Aku menoleh.

Maksudnya, cinta biru untuk Papa, merah untuk Mama, hijau untuk Kakak, dan seterusnya?

“Ya.”

Aku terdiam.

“Dan warna itu tidak saling memudarkan. Mereka hanya akan muncul bergiliran di waktu yang berbeda, seperti konus pada mata yang aktif bergantian saat menangkap panjang gelombang cahaya yang berbeda. Saat salah satu konus aktif, yang lain tidak lantas hilang, melainkan menunggu waktu untuk kembali menangkap cahaya.”

Aku masih terdiam, mencerna analogi yang terasa asing itu.

“Kau tahu? Percaya atau tidak, aktivasi konus yang berbeda itulah yang membuat kita bisa melihat berbagai warna, sebab jika ketiga jenis konus itu mendapatkan stimulasi pada saat yang sama, maka yang akan terlihat hanyalah warna putih.”

Masih terdiam.

“Hadirnya cinta yang berbeda pada saat yang berbeda akan membuat hidupmu terus menerus berwarna, tanpa harus takut kehilangan mereka di saat yang bersamaan.”

Aku mulai mengerti.

“Hal ini berlaku bukan hanya untuk mereka bagimu, tapi juga engkau bagi mereka. Kau berharga karena kau adalah warna yang melengkapi hidup mereka.

Benarkah?

“Jangan pernah takut pudar dari hati mereka, Sayang.”

***

24 Agustus 2011, pukul 20.10

Tidak, warnaku tidak akan pudar dari hatinya, meski nanti ada sosok baru. Setidaknya itu harapanku.

Kutatap punggungnya saat ia keluar. Kutahan isakku sekuat tenaga. Ia tidak boleh melihat air mataku. Aku tidak mau ia salah paham dan berpikir aku tidak bahagia mendengar kabar darinya. Ia harus tahu, bahagianya adalah bahagiaku. Sampai kapan pun.

Dengan cinta untuk yang sudah, sedang, dan akan berbahagia.

 

Asrama, 2 Oktober 2011, pukul 02.30-04.00

 

Oleh FINA FEBRIANI

 

Catatan:

Konus adalah nama lain dari sel kerucut yang merupakan salah satu dari dua jenis sel fotoreseptor pada mata, sel ini peka terhadap intensitas cahaya yang tinggi dan perbedaan panjang gelombang sehingga berperan dalam proses penglihatan di siang hari atau di tempat-tempat terang. Sel yang terdapat di fovea ini menghasilkan penglihatan dengan ketajaman yang tinggi. Di dalamnya terdapat pigmen fotosensitif iodopsin, yang dibagi menjadi 3 berdasarkan warna cahaya yang diserap, yakni merah, biru, dan hijau.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on February 21, 2012 by in Cerita Pendek and tagged .
%d bloggers like this: