Katajiwa

Majalah Kebudayaan

Tikus Mati

Sewaktu kecil, saya dan teman-teman pernah berburu tikus, baik tikus yang kecil maupun yang besar. Bila kebetulan ada tikus yang terlihat muncul di jalanan, kami akan mengejarnya dan menghajarnya. Sayangnya, tikus adalah hewan yang lincah dan cepat sehingga sulit untuk ditangkap. Seingat saya, dari beberapa tikus yang kami kejar waktu itu, tidak ada satu pun tikus yang berhasil kami tangkap. Tikus boleh selamat dari kejaran kami, namun mereka tidak selamat dari kejaran maut yang lain: ban kendaraan bermotor. Waktu itu, sesekali saya menemukan tikus yang mati di tengah jalan karena terlindas ban-ban kendaraan bermotor. Disinyalir, mereka terlindas ketika hendak menyeberang jalan di malam hari. Sungguh aneh bila pada akhirnya mereka mati dalam momen seperti itu. Saya jadi teringat bahwa makhluk bila telah datang ajalnya, tidaklah ia dapat memundurkannya atau memajukannya walau sejenak. Mungkin memang saat menyeberang itulah momen kematian mereka.

Akhir-akhir ini, saya semakin sering saja menyaksikan bangkai tikus di tengah jalan, baik yang masih berbentuk bulat dan segar hingga dalam kondisi gepeng dan berwarna sama dengan aspal. Saya jadi berpikir bahwa tikus mungkin memang hewan penyeberang jalan yang buruk. Mereka tidak dapat memperkirakan kapan momen yang tepat ketika menyeberang atau mungkin mereka tidak menengok ke kanan atau ke kiri terlebih dahulu sebelum menyeberang agar selamat.

Ketika hal ini (semakin banyaknya tikus yang ditemukan mati di tengah jalan) saya sampaikan ke seorang teman, ia memberitahukan kepada saya hal lain yang selama ini tidak saya ketahui atau tidak saya pikirkan. Menurut teman saya ini, segelintir kecil tikus memang mati ketika menyeberang tapi tidak semua tikus yang terbaring mati di tengah jalan tersebut mati ketika mereka sedang menyeberang. Tikus-tikus itu sudah mati terlebih dahulu sebelum mereka menyeberang.

Ternyata, perburuan tikus bukan hanya dilakukan anak-anak tapi juga orang dewasa. Bedanya, orang dewasa tidak mengejar-ngejar tikus seperti anak-anak, tetapi mereka menggunakan jebakan tikus atau -ini yang paling sederhana- racun tikus untuk membasmi tikus-tikus yang berseliweran di rumah mereka. Tikus yang terkena jebakan atau mengkonsumsi daging yang dilumuri racun tikus pada akhirnya akan mati. Dengan cara seperti ini, lambat laun rumah akan bersih dari hama tikus. Satu masalah selesai tetapi muncul masalah lain. Dimana mayat-mayat tikus ini akan disemayamkan? Adakah yang rela menggali tanah untuk menguburkan jasad musuh masyarakat ini? Tidak banyak yang mau melakukannya atau bahkan mungkin tidak ada yang mau melakukakannya! Bila diserahkan ke kucing-kucing kampung yang biasanya berseliweran di komplek-komplek, mereka tidak lagi menggubrisnya, mengendus-ngendusnya pun tidak. Tampaknya kucing-kucing yang hidup di zaman modern tidak lagi tertarik dengan menu tikus apalagi bangkainya. Bila di sekitar rumah orang tersebut ada kebun kosong atau kali, biasanya mayat-mayat tikus ini tinggal dilempar saja ke sana. Biar lalat dan belatung atau ikan piranha yang akan mencerai-berai dan mengurai mayat-mayat tikus ini.

Lalu, bagaimana masalahnya jika tidak ada kebun kosong atau kali di sekitar rumah? Meletakkan mayat-mayat tikus di got halaman rumah adalah tindakan bodoh dan merugikan. Rata-rata got di Jakarta adalah got yang airnya tidak mengalir. Mayat tikus itu akan menetap disana sambil mengeluarkan aroma busuk kepada penghuni rumah sebagai balasan dari arwah tikus yang mati penasaran. Bagaimana bila dengan cara dibakar? Cara ini biasanya terkendala dua masalah: sulitnya mencari tempat pembakaran dan  kegiatan bakar-membakar (yang biasanya bersifat outdoor) tentunya akan menarik perhatian orang lain. Orang-orang lain ini mungkin akan menghentikan perjalanan, menyaksikan kegiatan pembakaran dan menanyakan macam-macam pertanyaan yang mungkin tidak enak untuk didengar. Atau, bagaimana bila mayat-mayat tikus ini dilempar saja ke genteng rumah orang lain? Hahaha! Bila empunya genteng rumah tahu, urusan bisa malah tambah gawat. Pokoknya, masalah mau diapakan mayat tikus ini bukan perkara sepele, melainkan ribet dan bisa bikin pusing. (ya ampun, tikus ini hidup dan matinya menyusahkan manusia). Hingga akhirnya, dalam kondisi serba sulit itu, munculah sebuah ide mengenai tempat pemakaman tikus yang dirasa cukup brilian, yakni di tengah jalan! Ya, di tengah jalan! Selain tata pelaksanaannya dirasa cukup praktis (mayat tikus tinggal dilempar ketika malam hari dan jalanan sedang sepi), mayat tikus tadi juga tidak terlalu mengeluarkan bau busuk karena kebusukan-kebusukan dari mayat tikus tadi hilang ditelan udara terbuka dan ban-ban kendaraan bermotor. Selain itu, dengan digilas ban kendaraan terus menerus, mayat tikus ini nanti juga akan hilang dengan sendirinya. Dan sejauh ini, sepertinya belum ada pihak penggilas mayat tikus yang merasa dirugikan (pengendara mobil mana tahu jika mereka melindas mayat tikus? Lagipula jika mereka tahu, mereka mau apa? Mau menuntut? Menuntut siapa)

Seperti itulah cerita di balik maraknya mayat-mayat tikus yang sering saya lihat di tengah jalan. Membuang mayat tikus di tengah jalan -tanpa memikirkan bahaya jangka panjang bagi orang lain serta dosa jariyah bagi diri sendiri- mungkin sudah menjadi solusi yang meski immoral tapi ideal!

Oleh MULYADI SYAMSURI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on February 21, 2012 by in Opini and tagged .
%d bloggers like this: