Katajiwa

Majalah Kebudayaan

Untukmu.

kuulurkan tanganku, “ayo kita berjalan bersama.”
tanganmu menolak, matamu melirik ke kiri bawah. “tidak!”, katamu setengah meratap.
“kenapa? tangan ini masih jadi hakmu.”
“tapi.. tapi aku sudah tak seperti dulu lagi!”
“lalu, memangnya kenapa? jalan ini masih terbuka untukmu, untuk kita agar melaju kembali. ayo, ikut denganku…”. tanganku masih berharap.

 

ku tatap matamu dalam-dalam.
kau balas tatapanku. seolah kau ingin mengatakan sesuatu, tapi yang keluar hanya air dari matamu. kau menangis…
dalam tiap aliran air mata yang membasahi pipimu, aku tahu kau juga sedang berharap.
“kembalilah! masih ada waktu untuk berbalik, kembali ke jalan yang sempat kita tempuh dulu. bahkan kita berlari, kan! kau ingat?”. kuguncang tubuhmu.

 

isakanmu makin keras, air matamu makin deras. tapi ia belum melepaskan pandangan dari mataku.
“seandainya… seandainya…”
“sudahlah, ayo pasti masih bisa!”. geram.

 

kini kau benar-benar terguncang. “tapi aku sudah tak seperti dulu lagi!”.
kau tak mampu bertahan. seakan berontak, kau lari meninggalkanku.
menyisir langkah dan suara tangismu yang sendu, dalam hatiku, “Tuhanku Maha Pemaaf, aku yakin itu.. aku hanya kasihan padamu, sengsara dalam penyesalan. tanpa kau sadari kau menikmatinya…”

 

Oleh ZAKIYUS SHADICKY

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on February 21, 2012 by in Puisi.
%d bloggers like this: