Katajiwa

Majalah Kebudayaan

Menakar Kesetiaan Buaya dan Merpati

Penggunaan metafora “buaya darat” untuk laki-laki yang susah menetapkan hati atau dengan kata lain tak setia pada satu wanita adalah hal yang jamak dilakukan dalam masyarakat kita. Pemilihan hewan buaya sebagai “kambing hitam” untuk para laki-laki yang tak setia menarik untuk dikaji karena di etnik Betawi, hewan ini malah digunakan sebagai simbol kesetiaan. Tak tanggung-tanggung simbol itu dikonkritkan dalam bentuk roti yang mirip dengan jasad buaya. Tak afdhal  rasanya jika di pesta pernikahan orang-orang Betawi tak ada roti buaye-nye.

Lah, apa lacur. Bagaimana bisa satu binatang yang sama, buaya, bisa ditakar dengan nilai yang berbeda. Satu untuk ketidaksetiaan, di lain sisi ungkapan bentuk kesetiaan. Tak mungkin pula rasanya membayangkan bahwa buaya di daerah kediaman orang-orang Betawi adalah buaya dari jenis yang setia sementara di tempat lain gemar sekali mengumbar libido ke betina mana saja. Hal ini tentu tak bisa dibiarkan begitu saja. Saya kemudian mencari-cari, menyibak-nyibak catatan tentang hal ihwal sifat perkawinan yang dilakukan handai taulan keluarga buaya ini.

Setelah bersusah payah mencari catatan ilmiah para ilmuwan yang saya kira cukup sahih, saya temukan bahwa buaya adalah makhluk monogami. Huft, tentu saja temuan ini berpihak pada takaran orang-orang Betawi. Sialnya sebagai orang yang tak terlalu percaya dengan kebijaksanaan tempo dulu. Saya kemudian bertanya-tanya apakah leluhur orang-orang Betawi sudah terpengaruh dengan iklim ilmiah sehingga begitu getol melakukan penelitian dengan metodologi observasi yang njelimet sehingga kemudian berhasil mengambil temuan akbar: buaya jantan hanya kawin dengan satu buaya betina à buaya adalah hewan monogamy à buaya adalah hewan yang setia à mari kita buat roti buaya sebagai lambang kesetiaan. Ah, saya tak percaya orang-orang zaman dulu itu melakukan hal ini.

Lalu dengan semangat membela demokrasi yang berlebihan, bahwa mayoritas harusnya benar. Saya mulai mencari alasan bagaimana penarikan kesimpulan oleh jumhur masyarakat bahwa buaya adalah perwakilan ketidaksetiaan sudah tepat dan tak boleh dicela. Saya curiga jangan-jangan simpulan ini tak diambil dari perspektif perihal kawin-mawinnya para buaya tetapi bagaimana kaum buaya mencari makan. Saya pernah mendengar kata-kata para tetua di kampung halaman “ah, macam buaya saja, apa yang lalu di depan mata dimakan, tak peduli bangkai ataupun batang kayu.” Waduh, ini bisa jadi metafora berlapis-lapis, beginilah kelegitan lapisannya: buaya makan apapun yang ditemukannya à serakah, tak cukup satu à manusia yang tak cukup dengan satu wanita à tak bisa bersetia.

Agar tak lama berdiri di depan mulut buaya mari kita pindah ke merpati. Ah, bosan rasanya saya melihat gambar merpati di kartu-kartu undangan pernikahan. Agar pembahasan tak berlarut-larut saya langsung katakan saja di awal bahwa selain bosan, saya juga merasa heran dengan pencaplokan gambar merpati di kartu-kartu itu. Sementara saya mencari prosedur reproduksi buaya, saya menemukan pula sebuah catatan ilmiah yang mengejutkan merpati adalah hewan yang mempraktikan kultur poligami. Alahmak, lalu kenapa pula orang-orang ini dengan bangga mencantumkan hewan ini di undangannya. Apakah sang mempelai pria begitu berstaminanya sehingga baru akan kawin untuk pertama kali sudah bersiap-siap untuk menikah lagi nanti. Ataukah sang dinda cantik itu begitu baiknya sehingga sudah bisa merelakan jika suaminya akan menyunting perawan yang lain, nanti.

Jangan-jangan konsep tak setianya buaya menular ke sini. Kalau anda rajin membaca kisah-kisah sejarah, ada suatu masa dalam peradaban umat manusia ketika merpati dijadikan tukang pos, lalu lalang mengantarkan surat. Ke manapun seseorang pergi, ketika merpati kepunyaannya dilepaskan, ia akan kembali ke sarangnya. Nah, terlihat bukan inilah bentuk kesetiaan, ke manapun ia pergi, kembali tetap ke sarang yang ditinggal. Catatan yang harus diingat kesetiaan ini muncul jika dan hanya jika merpati tersebut memang berbakat dan sering dilatih. Ah, indahnya kesetiaan jenis ini, kesetiaan yang bertumbuh seiring bertambahnya latihan. Hanya, sebagai orang yang tak tahu terimakasih terhadap bantuan catatan sejarawan tadi, saya malah masih bertanya: “kalaulah metafora ini memang begitu alur pikirnya, kenapa pula di kartu-kartu undangan tak kreatif itu selalu ada dua merpati, berpasangan, tapi sarang selalu tak kelihatan.”

Terakhir, aneh bin ajaib, mengapa kesetiaan yang berhubungan dengan hubungan interpersonal laki-laki dan perempuan tak disimbolkan dengan binatang yang sudah kita kenal begitu setia, anjing? Untuk kasus ini saya punya hipotesis. Dalam masyarakat kita ada dua hal yang tak boleh dilupa, pertama masyarakat didominansi oleh para lelaki, jadi pastilah metaphor-metafor yang berkembang diciptakan akal budi mereka. Kedua, kebanyakan laki-laki ini adalah muslim yang sekurang-kurangnya paham halal-haram dalam agama. Demi mengingat dua hal ini tak akan ada laki-laki yang mau disamakan dengan anjing. Pertama, karena kesetiaan yang bersandar pada anjing memiliki nilai yang begitu berat untuk dijalankan para laki-laki. Laki-laki cukuplah menakar nilai kesetiaan model merpati, tak apa berlabuh cinta ke banyak wanita asalkan tetap balik ke rumah jua. Kemudian, laki-laki muslim jenis apa pula yang mau disamakan dengan anjing, yang jelas-jelas produsen najis kelas berat.

MUHAMMAD AKHYAR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on March 28, 2012 by in Opini and tagged , , .
%d bloggers like this: