Katajiwa

Majalah Kebudayaan

Arloji

di ulang tahun ke dua puluh tiga perkawinannya

lelaki itu membeli kado untuk perempuan kesayangannya:

sebuah arloji

 

arloji itu berwarna coklat, persis seperti warna mata

yang ia simpan di kantong ingatannya

jarumnya lincah bergerak mendatangi satu persatu angka

angka yang malas menunjukan dirinya

karena setiap perpindahan jarum dan bilangan

hanya menyisakan keheningan yang tak pernah genap

bagi lelaki yang merayakan ulang tahun perkawinannya hari itu

 

dia memakai baju beludru yang lengannya tak lagi sama panjang

di tangannya sudah ada kado, sebuah arloji yang mati.

 

dan, pukul tiga tepat, ia tiba di tanah yang masih basah

menemani seroja dan sebuah batu yang belum bernama

 

jarum arloji tibatiba bergerak, hidup berdetak.

 

selamat ulang tahun,

kata lelaki itu pada cintanya yang sudah terlambat.

 

 

2012

 

Oleh Hasrul Eka Putra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 1, 2012 by in Puisi.
%d bloggers like this: