Katajiwa

Majalah Kebudayaan

Cerita Cinta Minggu Pagi

Minggu pagi ini, kakiku yang dibalut sepatu Nike sedang melangkah di Kowloon Park, menyusuri jalanan kecil ke arah Mesjid Raya Kowloon. Beberapa orang sedang duduk-duduk di tepi kolam di tengah taman memperhatikan angsa yang berenang dan sesekali membenamkan kepalanya ke air. Ada pula beberapa rombongan yang sedang berpose demi dipotret oleh satu temannya yang lain. Kuperhatikan satu rombongan berparas Melayu berkumpul di dekat pohon cemara di arah kananku. Firasatku mereka sebangsa denganku, Indonesia. Tapi memang tak berniat aku menyapa mereka.

Anak-anak berwajah oriental, lima sampai enam orang, berlarian ke arahku. Mereka orang Hong Kong, tebakku yakin. Bagaimana tidak, selama aku bekerja di negeri yang juga disebut Paris-nya Asia ini aku sudah mulai bisa membedakan mana gelagat penduduk negeri ini dan mana yang bukan. Itu bukanlah hal yang sulit mengingat setiap hari aku bertemu orang-orang semacam mereka di rumah.

Aku sampai di tanah lapang di belakang Mesjid Kowloon, batas antara Kowloon Park dan mesjid. Di sepetak tanah yang jarang ditumbuhi rumput ini, ratusan perkutut hinggap dan mencari makan. Kata temanku yang juga bekerja di Wilayah Administratif China berhaluan ekonomi liberal ini, “Lapangan ini kayak di Trafalgar Square, lho”. Aku tak tahu persis tempat apa itu. Hari itu aku juga sedang malas membahasnya. Ya, kubayangkan saja Trafalgar Square seperti tanah lapang ini.

Di pinggir tanah lapang, ada tangga semen yang menghubungkannya dengan jalan raya lebar di dataran yang lebih tinggi. Aku susuri anak tangga satu per satu agar sampai ke jalan raya sehingga di hadapanku sekarang berdiri Mesjid Kowloon dengan kokoh. Beberapa orang dengan kulit agak gelap dan tubuh lebih besar dariku berjalan keluar masuk mesjid. Mereka menggunakan gamis dan peci, mengobrol dalam bahasa yang tidak kumengerti. Tapi sempat juga telingaku menangkap bibir mereka mengeluarkan bahasa Arab—ayat Al Qur’an mungkin. Aku sudah lama tidak ke mesjid ini lagi. Seingatku hanya dua kali, itupun waktu awal-awal tinggal di Hong Kong. Dengan kondisiku sekarang yang sudah berbeda, tak pantas rasanya masuk rumah suci itu.

Berbelok ke kiri setelah menyusuri jalan depan mesjid, aku pun sampai di Lock Road. Pejalan kaki disini tidak terlalu ramai sekarang, namun tetap saja mereka tak berubah, selalu berjalan dengan kecepatan lebih tinggi dari orang-orang di negara asalku. Mereka yakin waktu sangat berharga, sehingga tidak ada kata santai dalam kamus mereka. Bahkan eskalator di seantero Hong Kong juga bergerak lebih cepat dari ukuran eskalator Indonesia. Budaya yang keren, menurutku.

Jalan ini menuntunku menuju stasiun MRT Tsim Sha Tsui. Stasiun bawah tanah ini akan menjadi awal mula perjalananku ke Causeway Bay, distrik lain di Hong Kong berjarak kurang lebih 1,2 mil dari sini, jika ditarik dengan garis lurus. Karena jarak jauh itulah kupilih MTR sebagai transportasi kesana, selain memang karena kereta cepat ini adalah pilihan terbaik transportasi dan disenangi seluruh orang di Hong Kong. Aku juga punya janji bertemu seseorang disana, orang yang baru kukenali minggu lalu. Mahasiswa Indonesia yang sedang studi penelitian katanya. Ia mengaku menduduki bangku jurusan manajemen, tapi entah kenapa ia mengajakku bertemu pagi ini. Aku yang menentukan titik pertemuan—tempat yang selalu didatangi seluruh TKW Indonesia di hari Minggu bersama pasangan mereka, karena TKW di Hong Kong selalu diliburkan oleh majikannya pada hari Minggu. Apalagi kalau bukan Victoria Park. Tapi kekasihku tidak tinggal di kawasan Kowloon, sehingga kami biasanya memang langsung bertemu di taman kota itu.

Setelah mendekatkan Octopus Card-ku pada mesin sensor, segera kupercepat langkah. Selain karena memang aku sudah tak sabar bertemu Tami kekasihku, MTR juga mulai menderam berhenti di stasiun Tsim Sha Tsui. Aku mengambil jalur agak ke pinggir depan pintu, mengantri di belakang seorang pria paruh baya dengan baju formal, sembari menunggu untuk membiarkan ular raksasa ini memuntahkan para penunggangnya keluar dengan tertib. Dan ketika semua sudah keluar, baru aku masuk bersama yang lain, yang tentu juga dengan tertib.

Setiap naik MTR, selalu aku jadi kembali membayangkan KRL kelas Ekonomi di Indonesia, lalu membandingkan situasi beradab sekarang dengan chaos-nya cacing besi karatan itu yang memaksa para penggunanya berdesakan bagai sarden di dalamnya. Sangat biadab!

Di sini semua orang berperawakan rapi, tak ada yang terlihat berniat jahat sehingga tidak perlu membuat penumpang merasa was-was dengan barang bawaan mereka. Merasa kondisi aman untuk beraktivitas, tak sungkan-sungkan penduduk Hong Kong mengeluarkan gadget pilihan mayoritas rakyat Hong Kong, iPhone. Entahkah itu untuk menelepon, mendengarkan musik, atau sekadar bermain game. Tak ada yang takut karena dijambret, benar-benar tenang. Tapi di Indonesia? Hmm, membahasnya saja aku malas.

Untuk sampai ke stasiun Causeway Bay, aku harus transit sekali, di Admiralty. Lalu meneruskan ke MTR lain ke arah Chai Wan. Setiba di Causeway Bay Station setelah melewati stasiun Wan Chai, aku keluar dari MTR lalu segera berjalan mengambil jalur keluar stasiun ke arah Lockhart Street. Itu jalan tercepat untuk sampai ke Victoria Park. Berbeda dengan di Kowloon, Causeway Bay jauh lebih ramai hari ini. Banyak orang berlalu lalang dengan pakaian modis, bergandengan tangan bersama pasangan mereka, berjalan kaki sambil bercanda di seputaran Victoria Park dan Penningston Street, dan mereka berbahasa Jawa. Ya, jumlah orang Indonesia di Causeway Bay memang tergolong banyak. Selain karena memang Konsulat Jenderal Republik Indonesia ada di distrik ini, lalu toko makanan khas Indonesia yang cukup gampang ditemukan, juga karena kebiasaan orang Indonesia yang sering bermain dan berkumpul di taman kota ini, termasuk diriku. Aku serasa di kampung.

Sesampai di bibir Victoria Park, taman utama sudah mulai ramai seperti Minggu-Minggu yang lalu bahkan ketika aku datang lebih cepat dari biasanya. Tiap Minggu pagi aku janjian ketemu dengan Tami, wanita kelahiran tahun 1979 asal Banyumas. Ia pertama kali aku kenali disini. Ketika aku datang mulai bekerja di Kowloon, Ia sudah lebih dahulu bekerja delapan bulan, di keluarga keturunan China agen tiket dan perjalanan luar negeri, meski secara usia aku memang lebih tua setahun. Tepat di taman ini pula aku berkenalan dengannya, dibantu oleh teman lain dari Indonesia. Setelah berhubungan dan saling
mengenal dalam kurun waktu tidak cukup lama, akhirnya kami merasa cocok dan melanjutkan dalam hubungan setingkat yang lebih serius. Kami menjalani Minggu-Minggu berdua, berkasih sayang, saling canda, cumbu mesra, atau bahkan menjalani malam-malam berdua dalam luapan syahwat. Meski sebenarnya Tami sudah menikah dengan pria lain di Banyumas sana, namun kebutuhan batin wanita untuk dinafkahi memang tidak bisa dibohongi. Apalagi Tami sendiri sudah bekerja di negara ini selama lebih empat tahun. Sepertinya keberadaanku di sisinya mampu menutupi itu, dan tentu pula sebaliknya. Perjalanan kami di rantau jauh dari keluarga membuat kami harus melakukan hal tersebut, yang lama kelamaan memang menumbuhkan rasa cinta diantara kami. Aku mencintainya, dan aku tahu ia pun begitu.

Tami belum datang, karena kami selalu berjanjian untuk bertemu pukul sembilan pagi. Kulihat jam tangan modis-ku yang berwarna hijau muda dengan merk Levi’s barang KW-2 yang kubeli di Lady’s Market bulan lalu sudah berdentang di angka delapan. Aku memang sengaja membuat janji dengan mahasiswa Indonesia itu sepagi ini, agar setelahnya bisa langsung pergi dengan Tami. Jujur aku lupa namanya, tapi aku tetap ingat wajahnya. Lagipula Ia juga menyimpan nomor handphone-ku.

“Ddrrrttt… ddrrrt…” handphone ku bergetar sembari menyanyikan lagu remix yang sedang nge-trend hari-hari ini, meski aku tak tahu persis arti lirik lagu itu karena biduannya lebih terdengar seperti sedang berkumur-kumur dalam tempo yang cepat. Ternyata dari mahasiswa itu. Aku ingat kombinasi empat nomor belakangnya.

“Halo…”

“Halo Mbak Rina. Saya sudah di Victoria Park nih. Mbak yang pakai baju hijau muda dan celana pendek hitam ‘kan?”

“Iya. Oh, itu kamu…”.

Ternyata Ia sudah melihatku terlebih dahulu. Berjalan dari sisi kanan ke arahku sambil melambai, ia bersama rekannya, laki-laki yang juga aku temui minggu lalu. Mahasiswa itu memakai pakaian yang hampir persis sama sewaktu kutemui minggu lalu. Sweater garis-garis horizontal warna ungu kuning, celana jeans biru, dan tas slempangan hitam yang digantung di sisi kiri, sedangkan temannya hanya kaos biru, jeans, dan kaca mata. Tanpa tas. Kubalas lambaiannya.

“Sudah lama, Mbak?” sapanya terlebih dahulu sambil menjulurkan tangan untuk bersalaman.

“Nggak kok. Aku juga baru datang.” sambil kusambut tangannya. “Mau ngobrol dimana?”

“Terserah, Mbak. Yang enaknya aja…”

“Yaudah, disana saja.” sambil kutunjuk bangku taman yang rasanya muat duduk bertiga.

“Boleh, Mbak…”

Kami berjalan dan duduk dalam satu baris. Setelah agak enakan, aku berinisiatif memulai. “Ya, gimana dek? Apa yang bisa aku bantu?”

Ia terlihat lebih santai setelah aku mulai. Sebab sejak bertemu tadi, gelagatnya terlihat kaku dan malu-malu. Mungkin karena ia tahu status sosialku.

“Hmm, begini Mbak. Saya Yudhis, mahasiswa tingkat dua di jurusan Marketing Purbajaya. Kebetulan kedatangan saya di Hong Kong ini sebenarnya adalah untuk melaksanakan penelitian singkat tentang Pemasaran Internasional. Namun di hari-hari akhir aaya disini, aaya mulai menyadari dan tertarik untuk mengetahui lebih dalam fenomena sosial yang ternyata sangat ramai terjadi di Causeway Bay. Mmm…”

Ia ragu melanjutkan, kepalanya agak menunduk demi mengalihkan pandangannya. Aku paham.

“Lesbian, maksudmu Dek?”

“Eh, eh, iya. Maaf Mbak. Maaf kalau menyinggung.” Ia mulai berani kembali memandangku. Aku lebih santai ketimbang dia. Aku sudah menerima kondisi ini, lagipula ini bukan pembicaraan pertamaku mengenai tema yang masih tabu di kebanyakan orang Indonesia ini. Beberapa orang Indonesia yang baru pertama kali ke Hong Kong yang sempat kukenali juga mengajak bicara tentang perilaku yang dilakukan hampir semua TKW di Hong Kong.

“Tidak apa-apa, Dek. Aku sudah biasa dan sudah nrimo. Apa yang ingin kamu ketahui?” Yudhis terlihat kaku lagi, sedangkan temannya hanya diam mendengarkan di belakangnya. Ia lebih kaku lagi.

“Duh, sekali lagi maaf ya Mbak. Saya takut gimana-gimana. Mmm, Mbak boleh ceritakan kenapa sih Mbak bisa, mmm, seperti ini…?” Malunya belum hilang.

“Hmm, terlihat jelas ya? Iya, Dek. Aku ini perempuan asli, tapi memang dandanannya seperti butchy. Kau tahu ‘kan apa itu?” Yudhis mengangguk.

“Pertama kali datang ke Hong Kong, Aku bekerja sebagai pembantu rumah tangga biar bisa bantu keluarga yang masih miskin. Suamiku hanya penjual mie ayam. Anakku yang tiga orang harus terseok sekolahnya. Ya, ndak seperti kamulah yang keliatannya lebih berada.” Suasana obrolan terasa larut, cuaca yang tak begitu panas diiringi angin membuat sejuk. Sambil agak merinding, entah karena angin ini, kulanjutkan ceritaku. “Aku ingin mereka lebih dari Mbak yang cuma lulusan SMP. Ndak ada cara lain waktu itu yang lebih baik daripada bekerja di negeri orang.”

Yudhis dan temannya mendengarkan serius. Suasana serasa memendung.

“Bulan-bulan pertamaku disini semua masih normal saja. Tapi kebutuhanku sebagai seorang perempuan dan istri, ndak bisa aku bohongi.  Aku lalu kenal Tami, kami semakin dekat, dan terasa bisa saling mengisi dan menerima. Kami cerita tentang kondisi pribadi satu sama lain, kami jalan bersama, makan, menginap bersama, terus sampai malam itu kejadian.” Pikiranku menerawang, mengingat malam pertama dengan Tami.

”Awal-awal aku merasa agak bersalah juga, namun rupanya hal ini juga dialami oleh sebagian besar teman-teman Indonesia yang ngikut sebagai TKW disini. Mereka sering ngumpul, bikin komunitas semacam ini di Victoria Park, membuat Aku dan Tami merasa ndak sendiri.”

“Tapi maaf Mbak…” Yudhis memotong. “Bagaimana dengan suami Mbak dan suami Mbak Tami? Apa mereka tahu?” Air mukanya lebih serius kini. Sedangkan temannya yang lupa dikenalkan—atau memang memilih untuk tidak berkenalan mungkin—masih tercekat memandangku, mukanya setengah tak percaya.

“Suami Tami sudah tahu, makanya Tami dibuang dan ndak diterima lagi sama keluarganya. Tapi Mas Rohim, suamiku belum tahu. Dek, dalam hati sesungguhnya aku masih cinta sama Dia. Bagaimana ndak, Mas Rohim laki-laki pertama yang aku suka sejak dulu…” aku meneteskan air mata, tanpa sadar aku bicara lebih dalam. “Tapi mau gimana lagi Dek, Mbak dan teman-teman Mbak butuh yang begituan. Kami pasrah dengan kondisi ini akhirnya…” sambungku sambil menyeka air mata. Yudhis dan temannya terlihat merasa bersalah melihatku menangis.

Tami datang di saat yang tepat, sebelum wajahku kebanjiran air mata. Dia mengenakan kaos hijau muda persis sama seperti yang kukenakan hari ini, dengan celana jeans panjang ketatnya dan rambut panjangnya yang dibiarkan tergerai. Aku kenalkan Tami ke Yudhis, dan temannya yang baru Aku ketahui ternyata namanya Roni. Mereka berdua masih terlihat risih meski aku sudah bercerita dari tadi. Kujelaskan sedikit siapa mereka ke Tami, tapi Tami ternyata tidak terlalu antusias. Ia bosan dengan orang-orang seperti ini, pikirku. Ia langsung pergi.

Aku lebih memilih Tami dan memutuskan untuk mengakhiri obrolan ini. “Sudah ya, Dek. Sekali lagi,  sebenarnya semua ini terpaksa Mbak lakukan, Dek. Mbak juga kadang merasa berdosa, tapi mau gimana lagi. Mbak begini-begini ‘kan juga perempuan”. Air mataku mengalir lagi. Aku menyusul Tami tanpa tahu Yudhis dan Roni sedang apa. Biar jadi pelajaran kalau mereka jadi suami.

Catatan:

MRT: Mass Rapid Transportation

MTR: Mass Transit Railway, perusahaan transportasi kereta cepat di Hong Kong

Octopus Card: kartu prabayarsebagai alat pembayaran MTR di Hong Kong

butchy: pasangan lesbian yang lebih berperan seperti pria, berkarakter lebih maskulin

Oleh Zakiyus Shadicky

One comment on “Cerita Cinta Minggu Pagi

  1. dean
    July 15, 2014

    good lucky kak d ngri orng,,slut sm crt kakak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 1, 2012 by in Cerita Pendek.
%d bloggers like this: