Katajiwa

Majalah Kebudayaan

Isy Qalova

Lelaki selalu gagal, untuk tidak salah tingkah pada seorang gadis yang sedang menunduk malu-malu di depannya. Itulah yang sedang terjadi.

“Ya..?” sahutku.

Tegang.

Isy bersemu. Merah pipinya.

“Kak, aku sudah dua kali mengatakannya. Kakak masih ingat aku?”

Aku langsung menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal, baru menyadari bahwa aku sedang menginjak sebuah bola besar yang terus saja berputar, setelah terpesona dengan dua bola mungil nan cantik di hadapanku, yang terbungkus oleh sebening wajah yang belakangan sering kulihat banyak awan menyerupainya.

“Err… tunggu, aku ingat dulu. Hmm… Hmm… Kamu yang tinggal di depan kedai, kan?”

Aku pura-pura tidak ingat agar Isy mengambil kesimpulan bahwa aku tidak terlalu memperhatikan rumahnya. Walaupun mungkin dia tahu bahwa untuk menjaga perasaanku, ia juga seharusnya berpura-pura pula mengambil kesimpulan itu.

“Iya, kak. Rumahku tepat satu blok di depannya. Kok kakak tahu?” Jawabnya.

Dugaanku meleset. Isy cerdas ternyata.

“Errr…oh, ya..” Pembicaraan kami pun berlanjut.

***

Waktu aku masih SD, ada tiga rumah yang paling jarang dilalui orang-orang di sini, kecuali aku dan geng sepedaku: dua rumah besar yang isinya anjing, hmm, maksudku ada anjingnya, dan satu rumah yang diapit keduanya. Anjing-anjing itu menggonggong setiap kali ada orang yang lewat di depan rumah si empunya.

Setiap pulang sekolah, aku dan teman-teman geng sepedaku pasti lewat depan rumah itu. Bagi anak-anak geng sepeda, memacu sepeda sambil menertawakan anjing-anjing yang menggonggong itu adalah permainan yang menyenangkan. Kami seolah bisa merasakan kekesalan anjing itu dan bisa membuatnya menggonggong kapanpun kami mau.

Suatu hari, ketika sedang menikmati kegemaran kami itu, kami melihat seorang gadis keluar dari rumahnya yang diapit dua rumah itu. Walaupun ia hanya berdiri di pekarangan rumahnya, tanpa sepatah dua kata pun, kami tahu bahwa pasti ia sedang marah pada kami yang membuat anjing-anjing itu menggonggong terus. Kami pun semakin menjadi-jadi. Anak gadis itu malah melambungkan semangat kami.

Gadis itu, belakangan aku tahu namanya. Isy.

***

Sudah sepuluh tahun sejak aku tahu namanya Isy. Tak mungkin salah hitunganku, aku yakin sudah ratusan kali aku melihat gadis itu, tapi baru kali ini aku sadar bahwa yang aku lihat sekarang bukan lagi yang aku lihat ratusan kali itu.

Isy sudah berubah. Atau mungkin yang berubah terletak lebih jauh di dalam diriku, bukan pada gadis itu. Di tempat, di mana hanya orang yang sedang jatuh cinta saja dapat merasakannya.

Tanpa memberitahuku, dia sudah menjadi gula di jantungku. Sehingga setiap detaknya, hanya manis yang terasa. Dan ketika aku berpikir untuk menyatakan cintaku, aku memutuskan bahwa aku akan nyatakan cintaku padanya, tanpa memberitahunya.

***

“Isy, apakah kau menyukaiku?”

Isy terdiam.

“Bukan, bukan itu yang aku maksud.” Tukasku segera. “Kautahu, penderitaan laki-laki tak terlihat semudah yang perempuan punya. Anak laki-laki punya caranya sendiri untuk mengeluarkan apa yang dikeluarkan perempuan dengan menangis. Mudah-mudahan kau tahu maksudku, Isy.”

Isy masih menunduk.

“Bisakah kau tidak lagi melihat-lihatku?” tanyaku pelan tapi tegas. “Maksudku, aduh… begini… aduh… aku tak bisa menyampaikannya padamu. Isy, apa yang aku ucapkan tidak pernah menjangkau apa yang ingin aku beritahu kepadamu dengan sikapku kini.”

Isy lagi-lagi menunduk malu. Ia bersemu merah. Perempuan yang sedang bersemu merah, secara tidak sadar sedang melipatgandakan kecantikannya. Beruntunglah lelaki yang tidak melihat-lihatnya, namun tetaplah bisa merasakannya.

***

“Isy, sebagian orang hidup dengan menghitung bintang. Sebagian lagi hanya dengan melihat-lihatnya. Yang pertama, mungkin kebanyakan laki-laki, dan yang kedua perempuan.” Tuturku sok romantis.

“Tapi, Kak, “ sambung Isy yang duduk di sebelahku sambil tersenyum-senyum. “Itu karena dulu, untuk kita langit dibelah dua. Kau hitung bintang yang disana, kulihat-lihat bintang yang di sini. Sekarang langit kita sama. Kita lihat-lihat berdua.”

“Isy, Isy, Isy.. bukan. Kita hitung berdua.”

“Tidak, Kak, lihat-lihat saja.”

“Hitung.”

“Lihat-lihat…”

Bintang-bintang berlinangan gemerlapan, iri.

 

Oleh Ahmad Fauzi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 1, 2012 by in Cerita Pendek.
%d bloggers like this: