Katajiwa

Majalah Kebudayaan

Pria Tanpa Uang Sewa

Aku hanya duduk diam, menatap Eli yang terpaku. Tubuh besarnya dipaku pada salib seperti biasanya, tepat di tengah gereja, menghadap puluhan orang yang duduk bersimpuh untuk mengadu padanya. Ini adalah kali kedua aku datang untuk kebaktian setelah sekian lama, padahal batinku masih kaku akan Tuhan. Aku tak percaya lagi pada kasih Eli semenjak ibu meninggalkanku sendiri di halte itu. Aku belum bisa memaafkan Ibu yang mencampakkanku, dan Eli yang meninggalkanku. Hingga kini.

Kau pasti bertanya apa alasanku ke gereja jika aku tak percaya pada pada Eli? Jawabku singkat, Jessica. Berbeda denganku, Jessica adalah seorang Kristen yang taat. Bahkan hampir bisa dikatakan ia selalu datang ke gereja disetiap minggunya, sejak pertama kali ia dan sekeluarga pindah dari Padang Panjang ke Bintaro hingga sekarang dimana ia berdikari menghidupi adik laki-lakinya yang baru SMP kelas dua. Yang jelas, itulah yang kudapatkan dari perbincangan kami baik lewat sms maupun telepon. Walau pertemuan kami baru seumur jagung, entah mengapa aku merasakan sesuatu yang berbeda jika dibandingkan dengan setiap pertemuan dan perpisahanku dengan seorang wanita.

Aku bertemu dengannya sekitar sepuluh hari yang lalu, ketika untuk pertama kalinya setelah lebih dari lima belas tahun aku tak pernah menginjakkan kaki di gereja. Dialah gadis asing yang melihatku sendiri menangis tersedu-sedu pada waktu itu dan membujukku agar menghadap bapa untuk melakukan sebuah pengakuan dosa. Bodohnya, kuikuti apa katanya. Di dalam bilik kukatakan semua hal tentangku pada seorang tua yang tak kukenal sambil tersedu-sedu, mengumbar aib dan dendamku pada ibuku selama empat puluh lima menit lamanya.

Aku takjub, di balik pintu bilik ternyata gadis itu masih menungguku. Bertanya apakah perasaanku sudah lega, lalu mulai bercerita tentang omong kosong tentang Eli dan semacamnya. Tepat di tengah pintu utama gereja, kami berdua berdiri kurang lebih lima belas menit lamanya. Ia terus bercerita tentang Tuhannya, dan aku yang biasanya banyak bicara hanya terpaku memandang gurat senyumnya di sela-sela kata hingga perbincangan itu berakhir dengan saling bertukar nomor telepon genggam.

*****

Tak sudi aku harus membopong orang tua ini masuk ke dalam kamar lagi, lebih baik kubayar seorang bell boy dengan tips sedikit diluar nalar. Bayangkan saja betapa capeknya menopang rontaan benda seberat tabung elpiji besar menuju kamar hotel, berkali-kali setiap dia mabuk sepulang dari minum-minum dan berjoget di klub malam. Belum lagi setelah ia sadar, aku harus melayaninya, meremas-remas payudaranya kuat-kuat dan memelintir putingnya sekencang mungkin seperti yang ia pinta hingga putingnya memerah, bahkan kadang hingga putih mengelupas.

Anehnya, ia sangat menikmatinya, apalagi ketika kumasukkan ujung botol bir yang belum dibuka tutupnya ke dalam duburnya sembari bersenggama seperti kuda. Sebagaimana hari ini, dimana penderita sadomasochism itu memintaku untuk memukul punggungnya dengan sabuk gasper-­ku layaknya koboi rodeo yang menunggang lembu. Untung saja ia tak pernah mengeluh dan meminta gaya yang berbeda. Selain uang sebesar dua puluh lima juta sekali jalan, doggy style adalah salah satu penawar lain yang membuatku tak mual melayani nenek dengan satu cucu itu, karena aku tak perlu melihat ekspresi wajah bau tanahnya saat aku melakukan ini semua hingga pagi tiba.

“Sayang, nanti jam 4 jemput aku ya.” Tepat pukul delapan, belum selesai aku membersihkan diri, Carla sudah mengirim pesan untuk janji kencan malam nanti. Sepagi ini, sepertinya ia sedang bersemangat sekali. Mungkin suaminya sudah berangkat lagi untuk berburu gelar dan prestasi tinggi-tinggi. Bodoh sekali suami Carla ini, IQ-nya yang tertulis pada kertas ternyata tak sejalan dengan kenyataan, kurang lebih itulah yang kutangkap dari bibir Carla di antara desah nikmatnya bersamaku. Bagaimana bisa ia tinggalkan wanita secantik ini sendiri hanya demi sebuah pengakuan gelar doktor di luar negeri, padahal ia sudah bergelimang harta, dan lagipula apa yang ia sebut prestasi itu juga tak mengubah dunia. Carla kuanggap bonus. Walau ia hanya mampu membayar lima juta sekali jalan, tapi aku begitu menikmatinya. Anggap saja untuk mencuci tubuh ini setelah bergumul dengan seonggok tubuh yang sebentar lagi akan dimakan ulat seperti tadi. Oops, ada telepon dari yang lain lagi.

Rangka setinggi seratus tujuh delapan senti yang berbalut otot beserta wajah tampan ini adalah asetku untuk bertahan hidup, membeli rumah mewah dan membayar kredit BMW. Jika dihitung, penghasilanku lebih dari tujuh puluh juta seminggu. Nenek tua itu minimal dua kali seminggu. Carla, hampir setiap hari, tapi akan berhenti total sementara ketika suaminya pulang atau ketika ia terlambat menstruasi. Dan belum lagi dari yang lainnya. Jangan sekali-kali berbicara moral atau menyebut nama Eli di depanku karena aku seperti ini, katakan saja itu semua pada ibuku yang telah meninggalkanku sendiri.

*****

Selalu, Minggu pagi di gereja kami bertemu, yang mana setelahnya kuhabiskan Minggu bersamanya. Seperti layaknya dua insan yang sedang kasmaran, kami habiskan waktu dengan makan berdua, menonton bioskop, atau sekedar jalan-jalan sederhana sambil melahap harum manis di taman ria. Walau konsekuensinya harus kuliburkan jadwalku di setiap hari minggu dan relakan sebuah jadwal seharga dua puluh lima juta. Tapi tak apa, yang penting semuanya untuk Jessica. Aku bahagia menjadi seorang pria yang dapat menemani kesendiriannya walau tanpa uang sewa.

Walau kami hampir setiap minggu pergi berdua dan tak pernah putus bertegur sapa lewat sms dan telepon, tapi hingga detik ini hatiku belum berani untuk berkata bahwa aku cinta padanya. Kalian pasti paham bagaimana perasaanku, di mana terjadi perpaduan antara sebuah rasa ingin memiliki dan rasa takut yang sama-sama besar. Dua perasaan sama kuatnya yang mana meleleh dan lumer menjadi satu padu, hingga akhirnya menjadi kaku seperti es batu.

Mungkin karena terlalu sering mendengarkan khotbah di gereja yang berisi akan cinta kasih hingga otakku akhirnya jadi melantur. Tapi tepat pada pertemuan kami yang ke dua puluh satu, kuutarakan apa yang ada di hatiku, kuutarakan cintaku tepat di tengah pintu utama gereja, di bawah cermin warna bergambar Bunda Maria. Senyumnya merekah saat kulukiskan rasaku dengan bibirku. Dimana perbedaan warna biru dan ungu, dimana perbedaan putih dan abu-abu, kulukiskan dengan lugas dan tegas.

Namun seketika wajahnya pucat pasi ketika bibirku menggoreskan warna hitam terlalu berlebihan pada lukisan kataku. Seperti coreng-moreng yang begitu kotor ketika kuceritakan siapa aku ini dan apa aku ini. Air mata yang pecah pada wajah pucatnya mengalir seperti glacier, diiringi gerakan langkah-langkah kaki yang mundur pelan-pelan sebelum akhirnya ia berbalik badan dan berlari. Aku tetap mencintainya. Aku tak menyalahkannya. Ia hanya bersikap sewajarnya. Walau sebenarnya aku sempat memaafkan mereka saat rasa Jessica nyata keberadaanya, tapi lagi-lagi memang ibuku dan Eli-lah yang pantas untuk dipersalahkan akan rasa remuk ini.

*****

Selain sesekali menenggak vodka dan menghisap rokok kretekku dalam-dalam, aku lebih sering duduk diam di dalam kamar kontrakanku, hanya lontang lantung tak karuan. Apalagi jika harus memikirkan uang tabungan yang kian menipis setiap harinya mengingat hartaku semuanya sudah habis kujual satu persatu. Tambah lagi borok di kakiku akibat terpanggang knalpot motor ini juga kian membesar. Semakin menghalangiku berjalan normal, menjauhkanku dari segala jenis pekerjaan, objekan dan panggilan.

Kupecahkan cermin di kamarku, yang hanya melontarkan ejekkan akan bentuk tubuhku yang kian kurus mengering. Berbeda dengan dahulu dimana rangka setinggi seratus tujuh puluh delapan senti ini diselimuti otot dan wajah tampan, kini hanya ada rangka berbalut kulit dan wajah berjerawat nanah serta borok kaki yang menganga terbuka. Jelas saat ini Carla lebih memilih pria yang lebih bisa memuaskannya selama suaminya terus berburu pengakuan kepintaran. Begitu juga wanita-wanita langgananku lainnya yang juga butuh kepuasan selama ditinggalkan para suaminya memeras pundi-pundi emas. Sedangkan nenek tua gila pembawa penyakit itu sudah terlanjur mati dulu, pantas saja dulu ia berani jorjoran duit sebanyak itu padaku. Cari teman ke neraka ternyata.

Selain sisa memori akan kelamnya dunia saat itu yang aku gagahi malam demi malam hingga akhirnya kini aku menjadi pria tanpa uang sewa, Jessica masih terukir pada hatiku yang membatu. Walau faktanya kini aku lebih mirip seperti zombie, hidup segan mati tak mau. Tapi kenangan akan kebersamaanku dengannyalah yang menguatkanku, membuatku tahan menahan perih yang menganga dari luka-luka bernanah yang pecah.

Hingga suatu ketika ada yang mengetok pintu. Aku heran, tumben sekali ada yang mengetok pintu untuk bertamu. Tak mungkin jika itu adalah ibu kontrakan yang judes itu. Uang kontrakan sudah kubayar penuh setahun kedepan, ia pasti diam. Apa lagi wanita-wanita pengguna jasa layanan, tak mungkin mereka berselera dengan tubuh kurus kering penuh nanah. Kuintip lewat jendela, ternyata itu Jessica. Bagaimana bisa ia menemukanku, padahal dulu uang hasil penjualan BMW-ku untuk biaya sekolah adiknya hanya kulempar melewati lubang ventilasi.

“Permisi, benar Theodore tinggal di sini?”, tanya Jessica lirih dari balik pintu kamarku yang kukunci rapat. Dadaku serasa meledak-ledak, merasa begitu bahagia setelah mengetahui bahwa ternyata sekian lama ini ia terus mencariku. Ingin rasanya kubuka pintu, dan katakan bahwa ini memang aku.  Tapi, meski nanti dia akan katakan tetap mencintaiku dan menerimaku walau segelap apapun masa laluku, batinku tetap saja tak mengizinkan jika aku harus muncul dihadapannya dengan wajah seperti zombie dan berpenyakit.

Aku hanya bisa terdiam. Menghela nafas panjang sembari mengingat kenangan-kenangan indah bersamanya untuk katakan, “Maaf, saya Cempe, bukan Theodore”.

 

5 Febuari 2012

 

Oleh Adiwena Yusuf Nugraha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 1, 2012 by in Cerita Pendek.
%d bloggers like this: