Katajiwa

Majalah Kebudayaan

Risalah Ayah: Sepeda

Sudah lama aku tak pulang ke rumah ini. Dalam kenyataannya, rumah yang kusebut “rumah ini”, bukanlah benar-benar rumah kami. Yah, seingatku kami sekeluarga memang tak pernah memiliki rumah. Rumah yang kami tempati ini adalah rumah dinas yang ada di kompleks sekolah. Hampir tak ada yang berubah dengan isi rumah ini. Kursi-kursi tamu tetap berwarna merah kusam. Televisi tetap bermerk Digitec Ninja. Meja makan yang fungsinya hanya buat meletakkan makanan, dan ketika kami makan ia akan ditinggalkan. Seingatku hanya ayah (aku memanggil beliau ‘papa’) yang biasanya makan di situ. Mungkin perubahannya adalah usia mereka yang makin tua, seperti dua orang tuaku.

Saat aku pulang tadi, hanya ada ibu (aku memanggil beliau ‘omak’) di rumah. Setelah dia aku salami, aku ambil tikar pandan khas orang-orang Melayu yang diletakkan di atas lemari pakaian dan menggelarnya di depan televisi. Sebelum aku berbaring, bantal telah kutumpuk tinggi untuk mengganjal kepalaku. Ibu akan berada di sampingku yang tiduran, sambil melanjutkan setrikaannya, tak berubah. Benar-benar sama. Aku terlelap hingga menjelang Maghrib.

Selesai dalam lelap yang tak berubah metodologi pencapaiannya itu, aku mandi di sumur umum kompleks sekolah. Sumur (orang-orang Melayu menyebutnya dengan ‘perigi’) itu seingatku sudah ada sebelum aku lahir. Airnya begitu bening. Dulu, ketika sumur-sumur lain sudah kering kerontang akibat kemarau berkepanjangan, sumur ini tetap berair. Aku mandi dengan basahan (pakaian yang dipakai ketika mandi, bentuknya bisa celana bekas, bisa pula sarung yang sudah tak dipakai lagi) sore itu. Bagi orang-orang Melayu, mandi telanjang adalah pantangan. Paling tidak ada kain yang menempel di kulit. Tapi bagiku, memakai basahan karena alasan yang lebih pragmatis. Sumur ini tak bertutup, jadi tak mungkin aku mandi telanjang di situ. Bisa-bisa aku akan jadi pembicaraan orang-orang sekampung.

Isi omongannya jelas “itu anak pak Umar (nama ayahku), sekola tinggi-tinggi ke Jakarta, balik-balik uda gilo dio (itu anak pak Umar, sekolah tinggi-tinggi ke Jakarta, pulang-pulang sudah gila dia)”. Dan pasti dilanjutkan dengan “pasti uda setres dio, aku dongo kuliah tu botul-botul memoras pikiran, kalo tak kuat mental memang bisa gilo (pasti sudah stres dia, aku dengar kuliah itu begitu memeras pikiran, kalau tidak kuat mental bsa menyebabkan gila)”. Belum selesai “ah paling dio setres kerono malu, kuliah di UI kan samo anak urang-urang kayo, samo artis-artis, mano dio tahan hidup samo urang-urang macam tu, tak level (ah paling dia stres karena malu, kuliah di UI kan bersama anak orang-orang kaya, artis-artis, bagaimana dia mungkin ia mampu bersama orang-orang seperti itu, tak level)”. Akhirnya, pembicaraan akan ditutup dengan “ah, kau dongo tu nak, tak usalah sekola tinggi-tinggi, sekola di kampung ajo, karang bisa gilo (ah, kau dengar itu nak, tak perlu sekolah tinggi-tinggi, sekolah di kampung saja, nanti bisa gila)”.

Kita cukupkan khayalan tentang ketelanjangan tadi. Aku usai mandi dan sudah bersiap menanti Maghrib. Biasanya aku shalat di masjid yang jaraknya 200 meter dari rumah. Dalam penantian itu tiba-tiba terdengar suara motor. Ah itu ayah. Aku bertanya pada ibuku.

Mak, itu kereto siapo (Mak, itu motor siapa)?”

Kereto papa-lah, ado udah duo bulan (motor papa-lah, kira-kira sudah dua bulan).”

Aku mengangguk-angguk.

Wah paten nih Pa keretonyo, baru (wah bagus nih pa motornya, baru)?” tanyaku setelah menyalaminya.

Ah, kereto bokas, setahun pakai (ah, motor bekas, sudah setahun dipakai).”

Lereng yang biaso dipakai, di mano Pa (sepeda yang biasa dipakai, di mana Pa)?” tanyaku.

Ado tuh (ada itu).”

Maghrib pun tiba. Kami pun berangkat ke masjid dekat rumah.

            Seingatku, sepanjang aku tinggal di rumah ini. Belum pernah ayahku membeli kendaraan bermotor. Aku sering berpikir alasan mengapa beliau tak mau membeli motor. Berikut aku uraikan beberapa alasan yang terpikir olehku, mulai dari alasan medis hingga melankolis.

Bisa jadi ia tak membeli motor karena dengan bersepeda ia merasa akan lebih sehat. Aku teringat dulu, beberapa tahun yang lalu ia begitu rajin berladang. Kebetulan halaman sekolah ketika musim penghujan selalu terendam dan berlumpur, di situlah ia akhirnya bertanam padi. Saat itu aku begitu ingat, betapa ia gembira sekali berat badannya turun, kesehatannya membaik, dan fakta-fakta partikular lain yang jika ditarik akan menjadi sebuah hukum: “berladang membuat badanmu menjadi sehat dan bugar”.

Atau bisa pula alasannya nilai guna. Dulu pada saat ramai-ramainya orang membeli handphone, ia tak ikut-ikutan. Tampaknya ia tak punya minat sama sekali membeli hape. Alasannya sederhana:

Hape itu cuman buat pengusaha, siapo pulak yang ondak ditelpon (hape itu hanya untuk pengusaha, siapa pula yang hendak ditelpon).”

Lalu, anehnya pada saat aku SMA (pada saat itu harus ­ngekost karena jarak rumah dan sekolah yang begitu jauh) dia malah memaksa-maksaku untuk dibelikan hape. Alahmak.

Atau, bisa juga… Tak semua pikiranku perlu ditulis kan?

Sampai sini semoga tak ada yang bertanya “yaudah sih, kenapa gak ditanyain langsung ajah, ke ayah lu Yar?” Nah, untuk pertanyaan model begini aku akan menjawab “sejak kapan jawaban seseorang bisa mewakili alasan sebenarnya mengapa ia melakukan sesuatu?”

Daripada berkutat tentang alasan ayah membeli motor, sebenarny aku lebih suka bercerita tentang masa laluku terkait sepeda yang sekarang lebih banyak parkir daripada dikayuh di sudut rumah itu.

Dulu, pada saat aku masih seumur jagung tiap sore, ayah selalu menungguku dimandikan ibu. Nah, jika aku sudah dimandikan, sudah wangi karena dibedaki dan dipakaikan pakaian yang lucu, aku akan didudukkan depan sepeda. Seingatku jika sudah sore ayah sudah akan menyiapkan dudukan untuk anak-anak di stang sepedanya menunggu aku dimandikan ibu. Setelah aku duduk dengan aman aku akan dibawa olehnya ke warung sampah langganannya. Warung sampah adalah istilah orang Melayu untuk jenis warung yang menjual berbagai macam kebutuhan rumah tangga. Jika dibuat strata yang dilihat dari volume barang-barang yang dijual di sana, warung sampah berada di antara grosir dan warung eceran. Jarak warung itu lumayan jauh, sekitar satu kilometer dari rumah. Seperti kebanyakan warung-warung di daerah orang-orang Melayu, warung itu juga memiliki bangku panjang untuk tempat duduk dan berbincang-bincang. Di bangku itulah aku didudukkan ayah sementara dia memilih-milih kebutuhan rumah.

Ketika agak besar, aku tidak lagi duduk di depan, tetapi dibonceng di belakang sepeda. Aku ingat pada saat itu aku sudah diajak ke tempat yang lebih jauh. Ke pajak ikan. Pajak adalah istilah orang Melayu untuk menyatakan pasar. Biasanya pasar ikan itu baru buka setelah selesai Ashar. Suatu ketika ayahku mengajakku untuk ikut serta. Kesempatan seperti ini selalu sangat menyenangkan. Ajakan ayah berarti aku boleh memilih lauk apa yang akan dibeli. Biasanya ini terjadi jika bulan masih muda, ketika ayah baru gajian. Inilah kesempatan aku boleh memilih ini itu di pasar ikan. Aku biasanya akan meminta dibelikan kepiting dan udang yang besar-besar ditambah ikan bawal putih yang ukurannya paling besar.

Untung tak bisa diraih, malang tak bisa ditolak. Di sore malang itu, di perjalanan yang aku pikir akan menyenangkan itu, kaki kecilku masuk ke celah jari-jari yang begitu perkasa. Aku masih ingat bunyinya pada saat itu. Demi menyadari ada yang aneh dengan laju sepedanya ayah menghentikan kayuhannya. Ia melihat ke belakang. Wajahku seperti tak berdarah. Pucat pasi. Ayah mengeluarkan kakiku dari jari-jari sepeda itu. Aku lihat kaki kananku sudah lecet, memerah. Kakiku rasanya kebas. Tersirat wajah cemas ayahku. Orang-orang di pinggiran jalan sudah berkerumun. Tentu orang-orang ini kenal ayahku. Di huru-hara itulah muncul gagasan untuk membawaku ke dukun besi.

Meskipun orang-orang Melayu mengumbar-umbar ke publik bahwa mereka adalah manusia yang begitu mencintai ajaran Islam. Mereka pun yakin-seyakin-yakinnya, tiada Melayu tanpa adanya Islam. Hanya saja dalam realitanya, masih banyak lubang-lubang dalam kehidupan orang-orang Melayu yang diisi kepercayaan-kepercayaan mitis. Salah satunya seperti yang aku alami sekarang, jika seseorang terluka karena besi ia harus dibawa ke dukun besi. Orang-orang Melayu percaya seorang yang terluka karena besi itu tidak sekadar luka biasa. Ia adalah luka yang disertai dengan bisa yang berasal dari besi. Bisa jenis ini hanya bisa ditawarkan oleh seorang dukun. Mungkin seperti ketika seseorang digigit ular, bisa jadi luka dari luar tampak tak terlalu serius tetapi bisanya boleh jadi telah mencapai jantung dan membunuh orang tersebut. Sebenarnya ayahku yang merupakan seorang guru tak terlalu percaya dengan usulan ini, aku yakin itu. Namun, demi menghormati orang-orang yang memintanya ke dukun besi.

Dikayuhnyalah sepeda itu ke rumah sang dukun. Untungnya jarak rumah dukun dari tempat kejadian peristiwa tadi cukup dekat. Ah, aku heran bukan kepalang. Ternyata yang disebut dengan dukun besi itu adalah orang yang memiliki tempat pembuatan peralatan tajam seperti parang, babat, ataupun cangkul. Inilah dia transformasi dukun besi aku pikir. Kemampuannya menaklukkan besi dialihkan dari hal-hal mitis menjadi begitu logis, penempaan besi.

Cerita logis ini pun masih berlanjut ketika bertemu dengan sang dukun. Ia tersenyum ketika ayah memintanya untuk menawarkan bisa besi yang melukai kakiku. Ia menjelaskan sebenarnya hal-hal seperti itu tidak ada. Dukun besi hanyalah memberi semangat saja, agar orang yang terkena luka tidak terlalu cemas. Aku tak tahu itu adalah bentuk penetrasi logika ilmu pengetahuan di kepala pak dukun ataukah manifestasi kerendahatian yang luar biasa. Tak lama kemudian ia telah melakukan ritual dan tiba-tiba ia katakan ke ayahku jika bisa besi telah ditawarkan. Selanjutnya ia menyarankan ayahku agar aku disuntik tetanus. Ia khawatir, jari-jari sepeda yang melukaiku itu berkarat. Voila, ayahku yang sedari awal memang ingin segera membawaku ke mantri langganan kami untuk disuntik tetanus dan diberi perawatan medis, tanpa lupa berterimakasih, bergegas membawa aku ke tempat praktik pak mantri yang biasa kupanggil dengan sebutan uwak haji Darwis.

Masa-masa menawan di atas sepeda itu tak sampai di situ saja. Cerita ayah, aku, dan sepeda masih berlanjut hingga ketika aku telah memasuki pendidikan lanjutan pertama. Jarak SLTPku itu dengan rumah lumayan jauh. Sekitar empat kilometer. Saat itu aku sudah memiliki sepeda sendiri. Biasanya setiap pagi dengan semangat aku mengayuh sepeda menuju ke sekolah. Hingga datanglah suatu ketika, saat pagi begitu tak bersahabat. Mendung menggantung begitu berat serasa mau runtuh. Akhirnya, derai hujan pun jatuh deras sederas-derasnya. Aku mengkerut, tak berani ke mana-mana.

Tentu aku takut. Bagaimanapun kalau aku ke sekolah hari ini, badan kecilku akan basah kuyup. Selanjutnya bisa ditebak, demam seminggu penuh. Tentu aku tak mau itu terjadi. Dengan tegas aku putuskan tak akan ke sekolah hari ini. Aku pikir putusanku ini akan disetujui tanpa catatan oleh ayah, ternyata jauh panggang dari api, ia malah menyuruhku tetap berangkat.

Segera saja ia suruh aku mandi. Selesai mandi dan berpakaian sekolah lengkap dengan muka yang tidak mengerti, aku dimintanya memakai jaket tebal dan mengambil payung di pojok rumah. Tanpa banyak bicara dia minta aku naik ke boncengan sepedanya. Demi melihat itu segera saja kubuka payung dan kuteduhi aku dan dia. Kami berdua, anak-beranak pun segera menderu menuju sekolah.

Oleh Muhammad Akhyar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 1, 2012 by in Catatan Kebudayaan and tagged , , .
%d bloggers like this: