Katajiwa

Majalah Kebudayaan

Semiotika Tiga Pria dalam Film “No Country For Old Men” : Sebuah Tinjauan Menggunakan Metode Kritik Sastra Saussure

No Country For Old Men adalah film kedua besutan sutradara Coen Bersaudara (Joel Coen  dan Ethan Coen). Film ini mendapat delapan nominasi Piala Oscar dan memenangi empat di antaranya[1], termasuk gelar sebagai “Film Terbaik” pada Academy Awards tahun 2008. Film yang humanis tapi tidak manusiawi ini memang dipuji sebagai film yang tidak ada tandingannya di tahun tersebut.

Coen Bersaudara menggawangi film ini dengan sangat apik. Sangat berbeda dengan film pertama mereka, yakni The Ladykillers yang jeblok baik di pasaran maupun di festival. Coen Bersaudara mengajak penonton berpikir di film kedua mereka. Mereka menggunakan simbol dan membuat penonton bertanya-tanya serta menebak ending sejatinya film No Country For Old Men.

Salah satu aspek simbolik semiotik yang diperlihatkan Coen Bersaudara adalah ketiga tokoh utama dalam film ini yang mewakili pria dengan usia dan karakternya masing-masing.

Penulis akan terlebih dahulu memberikan sinopsis film No Country For Old Men. Dalam halini, selain sebagai ringkasan isi cerita, penulis berpendapat bahwa sinopsis dapat juga dipahami sebagai salah satu bentuk abstraksi paparan sintagmatis[2] meskipun harus diakui bahwa sinopsis ini bukanlah sesuatu yang bisa dipandang secara formal sebagai bagian dari perangkat metode kritik. Tujuan sinopsis ini untuk mempermudah pembaca memahami kritik ini dan juga bagi yang belum menonton filmnya agar mendapat gambaran besar cerita film No Country For Old Men.

Ed Tom Bell (Tommy Lee Jones), seperti juga ayah dan kakeknya, adalah seorang sheriff. Ia bertugas di Texas Barat, Amerika Serikat, sebuah wilayah yang mengalami peningkatan kriminalitas pada tahun 1980. Itulah sebabnya Ed Tom kemudian ingin mengundurkan diri dari jabatannya karena merasa sudah tidak mampu lagi untuk menjalankan tugasnya sebagai seorang penegak hukum. Sebab paling utama adalah karena dia membiarkan seorang penjahat yang bernama Anton Chigurh (Javier Bardem) bebas berkeliaran.

Anton Chigurhseorang pembunuh yang sebenarnya sudah ditangkap oleh salah seorang deputi Ed Tom. Sang deputi bernasib malang karena Chigurh walaupun tangannya diborgol malahan membunuh deputi tersebut dengan cara mencekiknya menggunakan rantai borgol. Chigurh kemudian membunuh seorang warga sipil, mencuri mobilnya lalu menemui dua orang yang menyewanya untuk memburu Llewelyn Moss (Josh Brolin).

Llewelyn Moss awalnya hanya sekadar ingin menembak antelop[3]. Moss gagal menembak mati antelop tersebut tapi dia yakin pelurunya telah mengenai salah seekor antelop dari gerombolan antelop yang ada. Moss menyusuri darah yang ada dari bekas antelop tersebut dan membawanya ke orang-orang Mexico yang sudah mati serta menemukan uang dua juta Dollar di sebuah koper salah seorang Mexico tadi.

Rupanya uang dua juta Dollar itu seharusnya menjadi milik boss-nya Chigurh. Maka, kejar-kejaran pun terjadi. Ed Tom Bell, sang Penjaga keamanan, melacak jejak, si pembunuh bayaran, Anton Chigurh. Anton Chigurh mengejar, lelaki biasa saja yang tak sengaja menemukan uang, Llewelyn Moss.

Dari film No Country For Old Men, penulis mengidentifikasikan segenap kompleks penyusun aspek naratifnya. Tokoh-tokoh, tindakan, peristiwa, suasana, emosi-emosi; bahkan emosi menurut pelbagai pasangan gagasan yang saling bertentangan dalam formasi berikut: keburukan dan keindahan, penderitaan dan kebahagiaan, kefanaan dan keabadian, keterikatan dan kebebasan, keterpecahan(kontradiksi) dan keutuhan. Tetapi untuk membatasi permasalahan, tulisan ini tidak akan membahas aspek pembangun narasi yang meliputi peristiwa dan suasana serta emosi keseluruhan film. Penulis hanya akan membahas Ed Tom Bell, Anton Chigurh dan Llewelyn Moss dengan segala tindakan, peristiwa, suasana dan emosinya

 

  1. 1.      Ed Tom Bell-Pria Tua Baik Dengan Segala Pengalaman dan Kepahitan Hidupnya

Ed Tom Bell adalah contoh sempurna bagaimana seorang pria tua menghabiskan hari-hari “bau tanah”-nya. Bell bekerja, berkeliling kota dan sarapan atau makan siang di kedai kopi sekitar. Dia tetap menjalankan kewajiban sebagai seorang Kepala Penjaga Keamanan alias Sheriff Texas Barat karena belum ada yang mumpuni dan layak menggantikannya. Ini langsung terlihat di awal film ketika seorang deputi Bell lengah menelepon dan membiarkan Chigurh di belakangnya yang kemudian membunuh si deputi ceroboh tersebut. Bukti kedua adalah pada saat menginspeksi rumah Llewelyn Moss deputi Bell yang lain tidak bisa berkesimpulan apa yang mendobrak pintu masuk rumah Moss sedangkan Bell langsung melihat ada sebuah bekas gagang pintu yang membentur tembok.

Bell merupakan gambaran pria yang sudah sangat matang. Dia tegas namun bisa juga bercanda serta berdedikasi terhadap pekerjaannya. Sebagai seorang sheriff, dia sampai rela pergi keluar kota yang sebenarnya bukan wilayah penjagaannya. Pencitraan Bell sebagai sheriff yang lumayan kuat walau pada akhirnya dia menyerah jua pada keadaan dan akhirnya memutuskan pensiun setelah berkonsultasi dengan pamannya yang seorang mantan sheriff di Ohio.

Sosok Bell akhirnya menyimbolkan bahwa pria, bahkan manusia mana pun, sekuat-kuatnya dia tidak akan terus kuat melawan zaman. Walaupun pria tersebut sudah banyak pengalaman, makan asam garam bahkan mencicipi rasanya kepahitan kehidupan. Persis seperti Chairil Anwar dalam sajak-sajaknya. Pada awalnya beliau bilang, “Aku mau hidup seribu tahun lagi.” Tetapi sebelum ajalnya dia bersajak, “Hidup hanya menunda kekalahan.” Sama persis dengan Ed Tom Bell yang pada awalnya ingin menjadi sheriff sampai dia mati tetapi kemudian akhirnya sadar bahwa dia harus pensiun karena sudah tak kuat lagi.

  1. 2.      Anton Chigurh-Penjahat Dingin Psikopat

Oposisi yang sempurna pula menempatkan Anton Chigurh di sisi yang berseberangan dengan Ed Tom Bell. Chigurh, selain karena memang, adalah tokoh antagonis atau penjahat dalam film ini, dia juga merupakan cerminan lelaki yang anti-sosial. Jika Bell adalah orang yang gemar bersosialisasi maka Chigurh sebaliknya sangat membenci yang namanya orang lain. Seperti yang dikatakan Carson Wells kepada Llewelyn Moss, bahwa Chigurh tidak menyukai Llewelyn juga tidak menyukai Wells bahkan Chigurh tidak menyukai semua orang !

Chigurh sepertinya menjadikan membunuh hanya sebagai permainan saja. Dalam film, hal tersebut terlihat saat dia selalu mengundi koin dan menanyakan kepada orang yang ditemuinya, “Heads or tails ?” “Apakah kepala atau ekor ?” Seorang penjaga toko beruntung menebak gambar yang akan keluar tapi malang bagi istri Llewelyn karena tidak mau menebak gambar apa yang keluar walau tidak disebutkan secara gamblang di film namun di novel Carla Jean Moss ditembak mati usai salah menebak gambar yang keluar di koin.

Pencitraan Chigurh sebagai sosok pria dingin sebenarnya juga mewakili beberapa lelaki yang bersifat dingin dan pendiam. Tetapi, kemudian hal yang dilakukan Chigurh yakni membunuh membuat dia menjadi pria minoritas anti-sosial.

  1. 3.      Llewelyn Moss-Lelaki Biasa Saja

Kita akan menemukan sosok Llewelyn Moss pada kebanyakan pria. Dia hidup sederhana, memiliki seorang istri dan bekerja biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Barangkali, kita akan menemukan sosok Llewelyn pada tetangga kita, rekan kerja kita atau bahkan kita sendiri para lelaki.

Llewelyn hanyalah sedang beruntung (atau tidak beruntung) menemukan sebuah kebetulan yang bernama “Nasib” yang membuat Llewelyn harus meninggalkan hidup biasanya. Tipikal sekali dengan cerita-cerita superhero atau banyak cerita lain. Pria biasa saja yang kemudian mendapatkan sebuah kekuatan atau petualangan.

Llewelyn juga mencerminkan sosok suami yang tidak disukai mertua tetapi disayangi istri. Ibu Carla Jean langsung marah begitu menerima telepon dari Llewelyn. Sepanjang perjalanan menuju El Paso, Ibunya Carla Jean selalu mengeluhkan soal Llewelyn yang tidak bertanggung jawab. Mungkin pada akhirnya beberapa dari kita saat melihat sosok Llewelyn akan berkata, “Llewelyn seperti saya saja.”

 

Terakhir, semiotika sebagai ilmu tanda dan makna mengungkap apa yang ingin disampaikan Joel Coen dan Ethan Coen dalam karya mereka, No Country For Old Men. Tiga tokoh utama bukan hanya sebatas tokoh cerita melainkan juga bisa dianggap sebagai karakter nyata. Mereka adalah kita yang kemudian tergambar dalam film, yakni pria biasa, pria dingin dan pria tua.

 

Oleh Johan Rio Pamungkas


[1] Nominasi untuk Best Cinematography, Best Film Editing, Best Sound Editing, Best Sound Mixing dan mendapatkan piala Oscar sebagai “Film Terbaik”, “Sutradara Terbaik”, “Adaptasi Terbaik”, “Aktor Pemeran Pembantu Terbaik”

[2]Paparanhubungan antara satu karya, baik karya sastra maupun bukan, dengan bahasa di tataran tertentu

[3]Sejenis rusa

One comment on “Semiotika Tiga Pria dalam Film “No Country For Old Men” : Sebuah Tinjauan Menggunakan Metode Kritik Sastra Saussure

  1. xtalplanet
    December 4, 2012

    ulasan yang bagus bro, bahasa yang enak, dan objektif.
    saya juga sempat kebingungan dengan ending film ini, namun seperti yang bro ulas, bahwa film ini sebenarnya hanya simbol, lantas saya paham makna keseluruhan film ini.
    Keep writing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 1, 2012 by in Kritik Sastra and tagged , , .
%d bloggers like this: